Lukisan dari Indonesia ke Jepang Bukan Sekadar Memindahkan Gambar di Atas Kanvas

 


Ada benda yang nilainya sulit dijelaskan hanya dengan melihat harga. Sebuah lukisan bisa saja dibeli dari galeri, dibuat sendiri oleh anggota keluarga, ditemukan di pasar seni, atau diwariskan dari orang tua. Ketika pemiliknya pindah ke Jepang dan ingin membawa lukisan tersebut dari Indonesia, tantangannya pun berbeda dari mengirim barang rumah tangga biasa.

Lukisan memiliki permukaan yang memang dirancang untuk dilihat, tetapi justru permukaan itulah yang paling ingin dihindarkan dari tekanan, gesekan, dan kondisi yang tidak sesuai. Belum lagi jika lukisan menggunakan bingkai kayu, kaca, atau material lain yang membuat keseluruhan benda menjadi lebih rentan.

Menariknya, dua lukisan dengan ukuran yang sama belum tentu membutuhkan perlakuan yang sama. Jenis kanvas, cat, kondisi permukaan, usia lukisan, serta keberadaan bingkai semuanya ikut menentukan bagaimana barang tersebut sebaiknya dipersiapkan untuk kirim barang dari Indonesia ke Jepang.

Perjalanan dimulai jauh sebelum lukisan masuk kemasan

Kesalahan yang cukup mudah terjadi adalah langsung membungkus lukisan begitu keputusan untuk mengirimnya sudah dibuat.

Padahal ada pertanyaan yang sebaiknya dijawab terlebih dahulu: seperti apa kondisi lukisan saat ini?

Lukisan lama mungkin memiliki permukaan yang sudah berubah seiring waktu. Lapisan cat bisa menjadi lebih rapuh, sementara bingkainya mungkin sudah tidak sekokoh ketika pertama kali dibuat. Pada lukisan yang sering dipajang, debu dan kotoran juga dapat menempel di permukaannya.

Pemeriksaan awal bukan berarti harus melakukan restorasi. Justru sebaiknya tidak melakukan tindakan perbaikan sendiri apabila tidak memiliki keahlian. Tujuannya lebih sederhana, yaitu mengetahui kondisi barang sebelum perjalanan dimulai.

Foto juga dapat menjadi catatan yang berguna. Permukaan lukisan, sudut bingkai, bagian belakang, serta detail yang sudah memiliki cacat dapat didokumentasikan. Bagi lukisan bernilai sentimental, dokumentasi seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui ukuran paket.

Bayangkan sebuah lukisan keluarga yang sudah berada di ruang tamu selama dua puluh tahun. Ada sedikit retakan pada bingkai dan satu bagian permukaan cat memang sudah tidak sempurna. Ketika lukisan tersebut tiba di Jepang, kondisi awal tadi akan menjadi informasi penting untuk membedakan antara keadaan lama dan perubahan yang mungkin terjadi selama perjalanan.

Kanvas dan bingkai memiliki persoalan masing-masing

Lukisan tanpa bingkai memiliki bentuk yang relatif berbeda dengan lukisan yang sudah dipasang pada bingkai tebal. Dalam beberapa keadaan, kanvas dapat ditangani dengan cara yang lebih fleksibel. Namun menggulung kanvas bukan keputusan yang bisa dilakukan sembarangan, terutama untuk lukisan yang sudah selesai dicat dan mempunyai permukaan tertentu.

Tekanan pada permukaan cat dapat menjadi persoalan tersendiri. Cat yang terlihat keras dan kering bukan berarti permukaannya cocok menerima tekanan atau perlakuan kasar.

Lukisan yang sudah terpasang pada stretcher frame juga mempunyai karakter berbeda. Kanvas berada dalam kondisi terbentang sehingga perubahan tekanan pada bagian tertentu dapat memengaruhi ketegangannya.

Sementara itu, bingkai menambahkan persoalan lain. Bingkai kayu dapat menjadi bagian yang cukup kuat, tetapi sudut-sudutnya tetap menjadi titik yang perlu diperhatikan. Jika menggunakan kaca, persoalannya tentu semakin berbeda karena sekarang ada material rapuh yang ikut menempuh perjalanan.

Inilah sebabnya ukuran lukisan bukan satu-satunya informasi yang penting. Orang yang hanya mengetahui panjang dan lebar lukisan belum tentu mengetahui bagaimana barang tersebut sebaiknya diperlakukan.

Ada perbedaan besar antara lukisan baru dan lukisan lama

Lukisan yang baru selesai dibuat dan lukisan yang sudah berusia puluhan tahun sama-sama terlihat sebagai gambar di atas kanvas. Namun kondisinya dapat sangat berbeda.

Pada karya yang relatif baru, pemilik mungkin lebih mudah mengetahui bahan yang digunakan dan bagaimana lukisan tersebut selama ini disimpan. Sedangkan pada lukisan lama, informasi mengenai jenis cat, lapisan pelindung, atau riwayat penyimpanannya bisa saja tidak diketahui.

Hal ini menjadi semakin menarik ketika lukisan merupakan warisan keluarga.

Seseorang di Indonesia mungkin menyimpan lukisan peninggalan orang tuanya, kemudian memutuskan mengirimkannya kepada saudara yang tinggal di Jepang. Tidak ada label harga yang benar-benar mampu menggambarkan nilai benda tersebut. Yang membuatnya penting justru sejarah yang melekat padanya.

Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk mengirim secepat mungkin sebaiknya tidak mengalahkan kebutuhan untuk memahami kondisi barang. Lukisan lama membutuhkan perhatian berdasarkan keadaan aktualnya, bukan hanya berdasarkan ukurannya.

Bingkai yang cantik bisa menjadi masalah tersendiri

Bingkai sering dianggap hanya sebagai pelengkap estetika. Padahal ketika lukisan dikirim lintas negara, bingkai ikut menjadi bagian dari benda yang harus dilindungi.

Sudut bingkai merupakan salah satu bagian yang mudah terkena benturan. Permukaan yang sudah dipoles atau dicat juga dapat mengalami goresan jika bergesekan dengan material lain.

Ada pula lukisan yang menggunakan bingkai dekoratif dengan bentuk menonjol. Bingkai seperti ini mungkin terlihat sangat indah ketika tergantung di dinding, tetapi bentuknya membuat pengaturan dalam kemasan menjadi lebih rumit.

Semakin banyak ornamen yang menonjol, semakin sulit menjaga agar tidak ada bagian lain yang menekan atau bergesekan dengannya. Karena itu, perlindungan lukisan sebaiknya mempertimbangkan bentuk keseluruhan, bukan hanya permukaan kanvas.

Kemasan yang terlalu longgar juga tidak ideal. Jika lukisan dapat bergerak bebas di dalamnya, benturan dari perpindahan posisi bisa terjadi berulang kali. Namun terlalu banyak tekanan dari luar juga bukan solusi. Lukisan membutuhkan perlindungan yang stabil, bukan sekadar lapisan pembungkus sebanyak mungkin.

Jepang bukan berarti lukisan langsung aman setelah tiba

Perjalanan berakhir ketika lukisan sampai di Jepang, tetapi bukan berarti kemasan bisa langsung dibuka dengan cara terburu-buru.

Lukisan sebaiknya dikeluarkan secara perlahan dan diperiksa kembali. Perhatikan apakah posisi bingkai berubah, apakah permukaan terlihat seperti sebelumnya, dan apakah terdapat bagian yang sebelumnya tidak terlihat.

Jika lukisan menggunakan material yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, memberikan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi tempat penyimpanan juga dapat menjadi pertimbangan. Tidak semua benda seni sebaiknya langsung diperlakukan seperti barang rumah tangga biasa begitu sampai.

Tempat penyimpanan setelah dibuka juga mempunyai peran. Lukisan yang sudah menempuh perjalanan panjang tentu akan lebih baik ditempatkan di lingkungan yang sesuai dengan karakter materialnya daripada langsung diletakkan di tempat yang lembap, terkena sinar matahari kuat, atau mengalami perubahan kondisi secara ekstrem.

Pada akhirnya, mengirim lukisan dari Indonesia ke Jepang memperlihatkan satu hal sederhana: barang yang paling mudah rusak tidak selalu merupakan barang yang terlihat rapuh.

Lukisan mungkin tidak bergerak, tidak mempunyai mesin, dan tidak memiliki banyak komponen. Tetapi permukaannya menyimpan seluruh nilai dari benda tersebut. Sedikit kerusakan pada bagian yang tepat dapat mengubah penampilan sebuah karya secara permanen.

Karena itulah, perjalanan sebuah lukisan sebaiknya dimulai dengan memahami karya itu sendiri. Bukan hanya berapa panjang dan lebarnya, tetapi bagaimana lukisan tersebut dibuat, berapa usianya, bagaimana kondisinya sekarang, dan apa yang membuat pemiliknya begitu ingin membawanya dari Indonesia sampai ke Jepang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu Tempuh Pengiriman dari Indonesia ke China: Apa Saja yang Mempengaruhinya?

Strategi Menembus Pasar E-Commerce Korea Selatan untuk Produk UMKM Indonesia

Tantangan dan Solusi dalam Ekspor Barang ke Korea